Hafsah D, Jum’at 10 maret 2017
Every accomplishment starts with the
decision to try" (Brian Littreli)
“ apa target hidup 5 tahun ke depan?
Tanyanya penuh keseriusan
aku punya jawaban, tapi lagi dan
lagi lidah lebih kaku daripada jemari.
Setiap awal tahun, aku tuliskan setiap mimpi yang ingin aku capai di tahun ini
serta mereview catatan mimpi di tahun lalu. Mencoret yang sudah tercapai dan
mengubah warna text ke warna hijau bila masih dalam proses pencapaian. Aku lebih bisa menjelaskan dengan mengetik
aksara daripada mengeja. Mendengarnya menjelaskan semua planningnya mengubah
Nangroe, aku bersyukur dalam hati karena
masih ada kaum-kaum muda yang punya niat mengubah nasib Nangroe bukan
hanya memikirkan urusan pribadi.
Beberapa hari lalu aku menonton Video
nasehat dik doank pencetus sekolah kandank jurank (SNSS dik doank). Aku
mengenal dik doank ketika di pelatihan
januari 2015. Mungkin karena aku yang demikian menangis ketika sesi
renungan massal malam itu, maka dik doank menghampiriku di tempat duduk. sejak
itu aku mulai mencari tau nasehat-nasehatnya.
Dari video-video tersebut aku mencatat beberapa nasehat;
Jadilah Hamba allah yang creative karena MASA DEPAN itu KONSEP, GAGASAN,
IDE dan ACTION. Sederhana tapi direalitakan itu lebih baik dari pada bangga
dengan teknik yang diibaratkan berada dalam bayangan kosong. Ciptakan
visi dan jadi visoner yang handal
yang leluasa bergerak dengan kewajaran kita, hadir dengan kemampuan kita dalam
bidang yang kita tekuni.
Tidak ada yang tercatat sejarah karena menerima melainkan karena memberi
manfaaat bagi yang lain. Jadilah yang kaya hati dan kaya harga. Tanamlah tumbuhan bila engkau menyukai burung, maka
burung akan hingga dengan sendirinya bukan kamu yang mengurung burung dalam
sangkar. Kalau mau miskin, pikirkan saja mulut dan perut sendiri tapi bila
ingin kaya maka pikirkan orang lain maka Allah akan membalas. Sukses tidak ada
barometer.
Dan aku sebenarnya cukup sadar bahkan
mungkin....sendiri,... kita bisa berlari cepat tapi sulit untuk berlari jauh,
maka di situlah peran teamwork. Aku percaya kamu akan belajar bagaiman teamwork
itu sejatinya bila sudah terjun langsung dalam masyarakat. Bicara tentang mengubah Nangroe sesuai dengan
kemampuan, fokus di bidang pendidikan, aku ingat sebuah essai yang aku tulis
beberapa tahun lalu dan semoga september 2017 Allah izinkan aku
realitakan visi tersebut. Graduate then take action. Kutipan essay untuk syarat salah satu mimpi tersebut adalah:
Dari
pengalaman sebagai tentor, guru dan pembina, saya merasa belum puas dengan ilmu
yang saya peroleh. Bagi saya menjadi seorang pendidik yang hanya mampu
mentransfer ilmu belumlah cukup, karena sejatinya seorang pendidik adalah sosok
yang bukan hanya mampu mentransfer ilmu tapi juga sosok yang harus mampu memotivasi serta membangun kemandirian
peserta didik. Dari pengalaman itulah,
saya ingin mempelajari psikologi pendidikan guna menjadi pendidik yang
professional. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara
pengetahuanpengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah
pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar
mengajar peserta didik”. Dengan menguasai psikologi pendidikan, sebagaimana
disebutkan dalam beberapa artikel yang saya baca, pendidik
diharapkan dapat memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai,
memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik, berinteraksi secara tepat
dengan siswanya serta menciptakan iklim belajar yang kondusif. Menurut saya,
pendidik yang menguasai psikologi pendidikan akan lebih terampil dalam mengatur
kelas sehingga proses belajar mengajar lebih menyenangkan. Saya ingin mengubah
pemikiran bahwa belajar itu tuntutan menjadi belajar adalah kebutuhan. Selama berkecimpung dalam dunia akademik,
saya temukan banyak peserta didik yang memiliki IQ tinggi dan kreatif namun
motivasi dan ambisi mereka rendah. Mereka hadir di kelas hanya untuk memenuhi
absensi semata serta mereka tidak memiliki rasa percaya diri untuk mencoba
menantang tantangan global. Bukan gunung yang terlalu tinggi dan mustahil untuk kita mencapai puncak, tapi
langkah pendakian pertama yang enggan kita
mulai. Itulah prinsip yang saya pegang teguh.
Bukankah terlalu sia-sia bila kecerdasan tidak direalitakan dalam aksi?!
Kita hanya sehebat yang kita pikirkan tentang diri kita. Ketika saya mengikuti program Sarjana Purna
Ulama ( SPU) UIN ArRaniry, Prof, Drs,
Yusni Saby, MA, Ph.D. pernah berkata:
“Sukses Itu Dapat Direalisasikan Dengan 2 Faktor: KESIAPAN dan
KESEMPATAN”. Selama ini saya memiliki kesempatan untuk ambil peran dalam dunia
pendidikan, namun persiapan yang saya miliki masih minim. Berhasil lulus
seleksi masuk program SPU dan bertemu dengan sosok-sosok hebat membuat saya
sadar untuk ambil bagian dalam memajukan negeri ini, Aceh khususnya.Melakukan
revolusi memang berat, oleh karena itu selama ini saya memilih melakukan
transformasi melalui 2 cara: personal dan komunitas. Secara personal, saya
menjadi guru sekaligus memberi konseling untuk
murid-murid saya. Saya berusaha membangun ikatan emosi dengan mereka
dengan cara berkumpul dan bercerita. Banyak peserta didik yang memiliki masalah
yang mulai terbuka bercerita kepada saya. Ketika pesimisme mereka muncul dalam
menghadapi pelajaran maupun tantangan non akademik seperti PORSENI, saya berusaha memotivasi dan
membangun kepercayaan diri mereka.
Secara komunitas, saya menjadi salah satu tentor di Learning TOEFL for
Free (LTF). Komunitas ini awalnya berdiri karena keprihatinan kami terhadap
mahasiswa-mahasiswa yang belum mengenal TOEFL namun harus memiliki nilai TOEFL
tertentu guna memenuhi syarat sidang skripsi. Di komunitas inilah kami
mengenalkan macam-macam TOEFL dan belajar bersama. Saya berharap dapat menjadi salah seorang
yang menyuarakan dan aktif mengusahakan
perubahan serta menjadi sosok inspirative yang berguna bagi sesama dalam
kebaikan. Belajar dari Jepang yang kembali bangkit setelah terjadinya bom
Hirosima melalui pendidikan, saya berencana menjadi seorang pendidik. Menurut
saya, menjadi seorang akademisi merupakan salah satu posisi strategis dalam
memajukan Indonesia. Dunia akademik adalah dunia dimana setiap orang dari semua
kalangan aktif berkecimpung serta pendidikan merupakan hajat semua masyarakat. Dengan
memajukan pendidikan, berarti kita memajukan negeri
Tapi aku perempuan, yang harus sadar letak prioritas-prioritas dalam hidup. Aku
ingin mengubah peradaban menjadi lebih baik dan lebih Allah ridhai melalui
pendidikan, namun aku juga tak pernah ingin melewatkan golden age anak-anakku
kelak. Jangan sampai aku melewati golden age anak hanya karena terlalu sibuk.
Umur 0-6 tahun itu fondasi kesuksesan anak di masa depan, entah itu psikologi
ataupun intellectuallnya. Di umur 12 tahun, anak lebih dipengaruhi kawan-kawan daripada ortu. Makanya manfaatkan
masa kecilnya untuk punya hubungan emosi dengan anak agar ketika anak dewasa
dan bisa mandiri dia masih punya ikatan dengan orang tua.
Ibnu abbas r.a berkata bahwa allah
berfirman “ maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik” ia berkata “ itu adalah qana’ah
(kepuasaan dan keridhaan hidup) selanjutnya ia berkata “ sesungguhnya rasul berdoa
“ ya allah,,,,puaskanlah diriku
dengan apa yang engkau rezekikan kepadaku, berkahilah diriku didalamnya, dan
gantilah untukku setiap yang hilang dariku dengan sesuatu yang lebih baik” (H.R Hakim dalam kitab Syu’abul Iman)
Bila mimpi-mimpi yang aku tulis belum
ditakdirkan menjadi nyata di tanganku, maka aku percaya Allah tidak pernah
gagal dalam merencanakan. CintaNYA tidak struktural namun indah. Semoga Nangroe
yang lebih baik itu nyata melalui tangan siapapun. Berbuat sesuai kemampuan yang Allah
karuniakan karena setiap kita mampu di bidang yang tak sama.
Biasanya aku tuliskan apa yang aku pelajari dari kehidupan di status facebook https://www.facebook.com/uroel.hidayah, tapi karena ini terlalu panjang maka aku post di blog saja.

